EKSPEDISI NKRI 2013 KORIDOR SULAWESI

 

Hasil Temuan Ekspedisi NKRI Koridor Sulawes

Diduga Spesies Baru: Begonia sp1dan sp2 pertama kali ditemukan dan diambil oleh staf peneliti Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor –LIPI dan diserahkan kepada ahli Begonia khususnya Begonia dengan nomor koleksi IP632 untuk sp.1 dan IP633 untuk Begonia sp.2 dengan status konservasi/kelangkaan dalam kategori belum dievaluasi (Not Evaluated, NE).  

Begonia sp1                                          Begonia sp2

 

Corybas sp. dan Eria sp.  adalah dua jenis anggrek yang ditemukan oleh Tim Peneliti Flora Fauna Sub Korwil VII/Tana Toraja yang diduga baru.Kedua jenis anggrek ini ditemukan di dataran tinggi dengan ketinggian di atas 1500 m dpl.  Corybas merupakan anggrek terrestrial (tumbuh di tanah) dan Eria adalah jenis anggrek epifit (hidup menumpang pada tanaman lain).  

 

Corybas sp                                                      Eria sp

 

Jembatan Gantung Ekspedisi NKRI Kegiatan Ekspedisi

NKRI Koridor Sulawesi 2013 meninggalkan kenangan manis bagi masyarakat setempat. Keberadaan satu prasarana yang dapat mempersingkat waktu, memudahkan akses pendidikan dan mobilitas masyarakat setempat,serta meningkatkan kesejahteraan akhirnya terbangun. Jembatan gantung. Sungai dengan lebar kurang dari 70 m rupanya membatasi mobilitas masyarakat Sulawesi. Tak heran keberadaan jembatan gantung secara nyata dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Sulawesi. Nilai investasi jembatan gantung ini sekitar 3 miliar rupiah dengan daya tahan konstruksi jembatan bisa mencapai 25 tahun karena material yang digunakan merupakan bahan impor dari luar negeri yang tentu saja terjaminkualitasnya. Pembangunan jembatan pun tak luput dari pengawasan langsung sang arsitek dari Swiss. Jembatan gantung ini dibangun di 6 titik yaitu di Tana Toraja, Mamuju, Kolaka, Sigi dan Bone Bolango 2 buah jembatan, dan diberi nama “Jembatan gantung Ekspedisi NKRI 2013”. Pembangunan jembatan ini  bertujuan untuk memperlancar informasi dan transportasi, memperlancar pembangunan infrastruktur di pedalaman daerah tertinggal, serta untuk menyatukan kembali kekuatan atau potensi di dalam masyarakat yang dirasakan rasa nasionalismenya menurun saat ini karena putusnya hubungan silaturahmi dan kekeluargaan di antara tetangga desa.

Pembangunan MTS Muhammadyah Matteko

Perbedaan kondisi topografi alam juga berdampak pada lambat dan tidak meratanya penyebaran tenaga guru, sarana dan informasi yang bisa menunjang kegiatan pendidikan di setiap sekolah yang ada. Akibatnya kita masih ditemukan daerah-daerah yang tergolong tertinggal, terbelakang dan belum tersentuh oleh pelayanan pendidikan yang layak dan memadai. Melihat kondisi yang sangat memprihatinkan  itu Ekspedisi NKRI 2013 tidak tinggal diam, maka dibangunlah gedung sekolah MTS Matteko dengan 5 ruang kelas dan perpustakaan serta 3 MCK di Dusun Mateko, Desa Erelembang Kec.Tombolo Pao Kab.Gowa.

 

Terdatanya 163 temuan budaya daerah 

Diantara 163 temuan budaya daerah yang berpotensi wisata dan kearifan lokal  terdapat pula temuan sejarah yaitu Bendera Merah Putih dari abad 17, yang ditemukan di Kolaka yang dulu disebut Mekongga yang konon sudah cukup lama menyimpan bendera Merah Putih tersebut. Bendera itu adalah milik Raja Mekongga pada akhir abad ke-17 bernama La Dumaa. Dan, sang merah putih itu saat ini masih tersimpan rapi di lemari pakaian keluarga keturunan Raja La Dumaa di Desa Kowioha, Kecamatan Wundulako, 10 kilometer dari kota Kolaka.Bendera merah putih itu berukuran panjang 200 cm dan lebar 63 cm. Karena dimakan usia, bendera pusaka tersebut makin memudar kendati corak merah putihnya masih tegas. Beberapa tulisan (lukisan) huruf Lontara’ dan Arab  yang terbaca adalah kalimat syahadat dan gambar dua ekor buaya. pada kain bendera tersebut juga ikut memudar.

 

 

 

Video


 

 

Polling

Bagaimana tanggapan anda tentang website Kopassus?
Baik
Cukup
Kurang

Arsip Polling